Bibirku menarik simpul
setiap sudut ujungnya. Sesekali aku memutar memori dari awal kedatanganku
melamar kerja di TPA kasih ibu teladan. Bagaimana bisa aku terdampar di antara
lengkingan suara anak-anak yang dititipkan di TPA ini. entahlah.. yang jelas
saat itu aku sangat memerlukan pekerjaan. Curriculum vitae ku sudah
berterbangan ke berbagai jenis perusahan swasta membidik jabatan sebagai staff
administrasinya. Sangat berbeda sekali dengan kenyataan saat ini. Ya, pekerjaan
ku sekarang sebagai seorang guru penitipan anak. Tempat kerjanya penuh dengan
anak-anak. Teriakan anak-anak, tangisan anak-anak, bahkan rengekan mereka
ketika lapar dan buang air besar kuhadapi. Sejenak terlintas dipikiranku, apa
aku sudah tidak waras. Pekerjaanku ini berhubungan dengan sesuatu yang tidak
kusukai. Harus aku akui sebenarnya aku tidak begitu mengerti dunia anak-anak.
Yang aku tahu mereka hanya seorang manusia kecil yang selalu membuat kerepotan
orang disekitarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Kebutuhan financial yang mendesak
membuatku tidak mungkin untuk menunggu pekerjaan yang bagus. Sambil menunggu,
tidak ada salahnya aku terjun ke dunia anak-anak ini.
“ bagaimana ummi weny ?
apakah nyaman berada di sini ?” suara bu nita yang akarab disapa ummi nita
membuyarkan lamunanku. Menanggapi pertanyaannya air mukaku mendadak tersenyum
agak terpaksa
“yah, masih menyesuaikannya nih ummi.” Jawabku sekenanya. Aku berkata jujur. Dari awal memang sudah kukatan dengan bu nita bahwa aku belum ada pengalaman dengan mengurus anak-anak.
“ iya, namanya juga
belajar. Nanti kalau ada apa-apa Tanya saja dengan ummi liya ya wen..” jawabnya
seakan mengerti apa yang mengganjal di hatiku. Ia menunjuk bu liya guru
penitipan anak yang sudah lama disini. Sedikit waktu berkenalan aku dan bu liya
tadi pagi. Hanya sekedar nama dan langsung mendekati anak-anak. Sejauh ini yang
aku tahu bu liya guru full time yang memantau anak-anak sekaligus guru yang
menjadi pembimbing anak-anak yang ada di tempat penitipan.
Aku tersenyum kearah bu
liya yang sedang menyuapi raffi untuk
memakan bekalnya. Pundakku tiba-tiba berat. tangan kecil gilang mencekik leher
ku minta dipeluk. Walaupun tak terasa tercekik kehabisan napas tapi lingkaran
tangannya di leherku sukses membuat tenggorokanku sakit.
“ummi mau o’ok” rengek nya padaku. Masya ALLAH, ternyata gilang sudah buang air besar di celananya. Dan sekarang ia tengah duduk dipangkuanku. Bau khas kotoran anak kecil menyeruak kehidungku. Sedikit ada rasa mual.mau tak mau aku harus membersihkannya sebagai bagian dari tugasku.
“ummi mau o’ok” rengek nya padaku. Masya ALLAH, ternyata gilang sudah buang air besar di celananya. Dan sekarang ia tengah duduk dipangkuanku. Bau khas kotoran anak kecil menyeruak kehidungku. Sedikit ada rasa mual.mau tak mau aku harus membersihkannya sebagai bagian dari tugasku.
aku pun membimbing tangannya menuju kamar mandi. perlahan membuka pampersna yang sudah penuh dengan kotorannya. Kembang kempis paru-paruku menahan bau kotorannya. Secepat mungkin kubersihkan agar hidungku tidak tersiksa lama-lama. Dan akhirnya selesai juga membersihkan badan gilang, sekarang saatnya untuk memakaikan celana ganti. Lagi-lagi hati ku dirundung rasa godok. Gilang malah bermain-main dengan ku. Susah payah aku membujuknya untuk pasang celana, ia malah berlari kesana kemari. Setelah beberapa kali aku membujuknya, akhirnya ia mau juga memasang celananya.
“ummi, aga lapar.” Baru saja siap membereskan gilang. Jilbabku sudah ditarik-tarik oleh aga. Ia merengek meminta makanannya. Dengan sedikit menghembuskan nafas aku menyuapi aga. Beberapa menit tangisan davi terdengar. Rupanya ia tengah gigit-gigitan dengan gilang. Astagfirullah.. bayangkan saja 30 anak dalam satu ruangan, aku hanya mempunyai dua tangan dengan semua anak-anak itu mengeluh meminta ini dan itu, atau bertengkar, atau berteriak karena saking girangnya bermain. Jika kuhadapi sendiri bisa pecah kepalaku, bisa habis kesabaran ini. beruntung ummi liya datang melerai davi dan gilang.
Sepi. Sebagian anak-anak sudah tidur siang. Ada beberapa anak yang tidak mau tidur siang dan aku harus menemaninya. Aku menilik jarum jam yang bergerak kea rah angka 12 siang. Baru setengah hari aku bekerja. Sudah mau patah-patah tulangku rasanya. Di timpa berat badan anak-anak yang bermain denganku.
“ ummi..” seorang gadis
kecil memanggilku. Rupanya ia terbangun dari tidurnya. Ia mencariku dan
menjulurkan tangannya. Aku tahu ia ingin dirangkul. Segera saja ia jatuh
kepangkuanku. Sudah dari tadi beberapa anak meminta aku yang menemani mereka
bermain. Bahkan tidak ingin pisah dariku. Hatiku luluh. Aku sadar kesukaanku
terhadap perilaku mereka yang bagiku menyebalkan itu terlalu berlebihan.
Pelan-pelan aku mulai mengerti apa yang mereka mau. Aku juga belajar
sifat-sifat anak-anak yang beragam disana. Ada yang aktif, suka ngambek,
pendiam, atau tersenggol sedikit langsung menangis. Mereka sedang berkembang.
Rasanya sedikit kasihan dengan mereka. Ditinggal orang tua bekerja. Mungkin
waktunya dengan orang tua sangat sedikit. Aku tidak menyangka, hanya dengan
kesabaranku menemani, mereka sudah bergantung padaku. Aku harus merubah
pendapatku kalau anak-anak itu biangnya rusuh dan menyusahkan. Mereka lebih
kepada manusia kecil yang sedang tumbuh, membutuhkan perhatian, kegembiraan,
dan kasih sayang orang terdekatnya. Sepertinya haluanku mulai bergeser. Aku
menyukai anak-anak ini. kutilik lagi jam dinding yang ada diruangan putih
bercat biru di sekelilingnya itu. jam 3. Ah, terasa cepat jam 5 aku akan
berpisah dengan anak-anak. Aku mungkin akan kecanduan dengan tawa, tangis, dan rengekan
manja anak-anak yang minta dipeluk. Pekerjaan ini tidak begitu sulit, walau
juga tidak mudah. Setidaknya dengan mencintai anak-anak akan membuat kita
kecanduan dengan rengekan mereka. Senyumku mengembang melihat nanar anak-anak
ku yang ada di ruangan bermain yang cukup besar ini.
“ummi.. falif o’ok”
teriak fathur. Aku pun tersentak dan melihat falif. Kotorannya bahkan sudah
jatuh kelantai. Arrrghhh… setidaknya, bagian yang ini aku harus lebih banyak
belajar sabar untuk tidak merasa jijik.
2 komentar:
wahaa.. seru juga tuh jadi guru TPA, gak jauh2 lah dari guru SD
Terus gimana kelanjutan Falif? agak ngeri juga ya.. hoho
hehe.. falifnya lagi dibersihkan (?) sma gurunya kak .. nasib falif sudah pasti tggung jwb guru nya. tp nasib gurunya yg harus di pertanyakan kak.. xixixi
trims udah mampir kak :D
Posting Komentar