Ga tauu pengen nulis apa. bingung banget mau ceritain apa k readers pengalaman saya hari ini. yah, saya akui hari ini gak ada yang menarik sama sekali. masih sama dengan yang kemarin-kemarin. Lha.. rugi donk..
y iyalah.. Rasulullah aja bilang kalau Kita sama dengan kemarin berarti kita rugi, kalau lebih buruk berarti celaka.
waduh...
baiklah.. pertama tama, saya mau nyampein kabar gembira yang menghiasi (?) saya hari ini. apa itu ?
beberapa waktu yang lalu saya sempat berpikiran ekstra dan benar-benar meluangkan waktu untuk pekerjaan saya. yakk betul.. MENULIS.
Untuk apa ? untuk mengikuti lomba cerpen yang di adain oleh LSMI ALMADANI FISIP UR.
dan.. jrengjrengjreng..
alhamdulillah.. saya menang juara dua. meski bukan nomor satu, tapi ini kemenangan pertama saya. saking senengnya langsung sujud syukur. gak lupa, kalau ALLAH SWT telah memberikan berkah-NYA.
Dan berita buruk nya.. ah, sudah disini saja ya.. kalau diceritakan berita buruknya banyaaaakkkkkkkk bgt. hehe.. saya ga mau kepikiran yg buruk buruk mulu.. sedikit melupakannya.. ^^
Senin, 06 Agustus 2012
Minggu, 22 Juli 2012
KEUTAMAAN SAF WANITA
Sudah
dua malam saya tarawehan di masjid desa kubang raya kampar. Sebenarnya tidak
mau menyebut nama tempatnya. Tapi gak apalah, semoga warga di sana ada yang
membaca. Kemudian mengambil baiknya.
Kenapa begitu ?
Awal
melihat masjid yang sederhana ini rasanya ingat kampung di kali jeruk sumbar
hanya penuh dengan orang tua-tua.. hehe, desa kubang jaya penduduknya tidak
terlalu ramai. Sedang masa pertumbuhan. Jadi ketika masuk, masjid yang lumayan
besar itu tidak penuh. Sangat berbeda dengan masjid di kota tempat saya
tinggal. Isinya pun kebanyakan orang tua dan anak-anak. Remajanya kemana ?
sekelumit pemuda ada yang tampak. Tapi pemudinya jauh dari kata tampak. Saya sudah
tertelan para orang tua di dalam barisan saf sholat. gimana nggak coba, wong
kiri kanan, muka belakang saya emak-emak.Minim pemuda dan pemudi di desa itu.
Ketika
hendak sholat fardhu isya, saf di depan sekali ada yang kosong. Para ibu-ibu
dan nenek2 yang berada saf paling depan
langsung saja melambai-lambai tangan sambil mengatakan kepada orang belakang “isi
saf depan”. Dan hasilnya.. tidak ada sama sekali yang bergerak. Hanya saya saja
yang bergerak. Yang lebih parah, malahan sempat saya dengan ada yang nyeletuk “
awak udah lamak disiko, ndak enak pindah-pindah tampek lai” kata seorang
ibu-ibu dengan aksen bahasa minangnya yang kental.
Hmm… saya hanya berhusnduzhon, mungkin si ibu
ingin mengamalkan keutamaan saf wanita yang paling akhir berdasarkan sunnah
Rasul.
Rasulullah
shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرُ
صُفُوْفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا، خَيْرُ صُفُوْفِ النِّسَاءِ
آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا
“Sebaik-baik
shaf pria adalah shaf yang awal dan sejelek-jelek shaf pria adalah yang
akhirnya. Sebaik-baik shaf wanita adalah shaf yang terakhir dan sejelek-jelek
shaf wanita adalah yang paling awal.”
(Shahih, HR. Muslim, no. 440)
Al-Imam
Nawawi rahimahullahu berkata: “Adapun shaf-shaf pria maka secara umum
selama-lamanya yang terbaik adalah shaf awal dan selama-lamanya yang paling
jelek adalah shaf akhir. Berbeda halnya dengan shaf wanita. Yang dimaukan dalam
hadits ini adalah shaf wanita yang shalat bersama kaum pria. Adapun bila mereka
(kaum wanita) shalat terpisah dari jama’ah pria, tidak bersama dengan pria,
maka shaf mereka sama dengan pria, yang terbaik shaf yang awal sementara yang
paling jelek adalah shaf yang paling akhir. Yang dimaksud shaf yang jelek bagi
pria dan wanita adalah yang paling sedikit pahalanya dan keutamaannya, dan
paling jauh dari tuntunan syar’i. Sedangkan maksud shaf yang terbaik adalah
sebalikanya. Shaf yang paling akhir bagi wanita yang hadir shalat berjama’ah
bersama pria memiliki keutamaan karena wanita yang berdiri dalam shaf tersebut
akan jauh dari bercampur baur dengan pria dan melihat mereka. Di samping
jauhnya mereka dari interaksi dengan kaum pria ketika melihat gerakan mereka,
mendengar ucapannya, dan semisalnya. Shaf yang awal dianggap jelek bagi wanita
karena alasan yang sebaliknya dari apa yang telah disebutkan.” (Syarah
Shahih Muslim, 4/159-160)
Al-Imam
Ash-Shan’ani rahimahullahu menyatakan: “Dalam hadits ini ada petunjuk
bolehnya wanita berbaris dalam shaf-shaf dan dzahir hadits ini menunjukkan sama
saja baik shalat mereka itu bersama kaum pria atau bersama wanita lainnya.
Alasan baiknya shaf akhir bagi wanita karena dalam keadaan demikian mereka jauh
dari kaum pria, dari melihat dan mendengar ucapan mereka. Namun alasan ini tidaklah
terwujud kecuali bila mereka shalat bersama pria. Adapun bila mereka shalat
dengan diimami seorang wanita maka shaf mereka sama dengan shaf pria, yang
paling utama adalah shaf yang awal.” (Subulus Salam, 2/49)
Dari
penjelasan di atas, dapat kita pahami dua perkara berikut ini:
- Bila wanita itu shalat berjama’ah dengan kaum pria, maka shaf yang terbaik baginya adalah yang paling akhir.
- Sementara bila ia shalat dengan diimami wanita lain (berjama’ah dengan sesama kaum wanita) atau bersama jama’ah namun ada pemisah antara keduanya, maka shaf yang terbaik baginya adalah yang paling awal sama dengan shaf yang terbaik bagi pria, karena tidak ada kekhawatiran terjadinya fitnah antara wanita dan pria. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
لَوْ
يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ لاَسْتَهَمُوْا
“Seandainya mereka mengetahui keutamaan (pahala) yang
diperoleh dalam shaf yang pertama, niscaya mereka akan mengundi untuk
mendapatkannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no.
721 dan Muslim no. 437)
Memang saf paling akhir
adalah keutamaan bagi wanita kalau berjamaah bersama pria. Tapi kalau sampai di
depan ada yang safnya bolong-bolong dan terputus bagaimana ?
Untuk hal ini ada
solusinya. Hey, ingatlah.. ISLAM ITU MUDAH !
Ketika disampaikan kepada Asy-Syaikh Shalih bin
Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah bahwasanya dalam bulan
Ramadhan kaum wanita yang ikut hadir shalat berjama’ah di masjid memilih
menempati shaf yang akhir. Akan tetapi shaf wanita yang pertama terpisah jauh dari
shafnya jama’ah pria. Karena mayoritas wanita menempati shaf akhir ini,
sehingga shaf penuh sesak dan menutup jalan bagi wanita lainnya yang hendak
menuju ke shaf pertama. Mereka melakukan hal ini karena mengamalkan sabda Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam: “Shaf wanita yang paling utama adalah yang paling
akhir.”
Beliau hafizhahullah memberikan jawaban
terhadap permasalahan di atas dengan mengatakan: “Dalam permasalahan ini ada
perincian. Apabila jama’ah wanita (yang ikut hadir di masjid) shalat tanpa ada
penghalang (penutup) antara mereka dengan jama’ah pria maka keaadan mereka
sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam: “Sebaik-baik shaf wanita adalah shaf yang paling akhir.”
Karena shaf yang akhir itu jauh dari kaum pria sedangkan shaf yang depan dekat
dengan kaum pria.”
Adapun bila mereka shalat dengan diletakkan
penghalang/penutup antara mereka dengan pria, maka yang lebih utama bagi mereka
adalah shaf yang terdepan karena hilangnya (tidak adanya) perkara yang dikhawatirkan,
dalam hal ini fitnah antara lawan jenis. Sehingga keberadaan shaf mereka sama
dengan shaf pria, yang paling depan adalah yang terbaik, selama diletakkan
penutup (penghalang) antara shaf mereka dengan shaf pria. Dan shaf-shaf wanita
wajib diatur sebagaimana shaf-shaf pria, mereka sempurnakan/penuhi dulu shaf
yang terdepan, baru yang di belakangnya dan demikian seterusnya. (Fatawa
Al-Mar’ah Al-Muslimah, 1/323/324)
Wallahu a’lam.
Selasa, 17 Juli 2012
Cinta Menulis
Assaah~ BORA KANG BLOG telah
lahir kembali (?). yah, dulu saya sempat punya blog, tapi ga ke urus. Sekarang timbul
lagi benih-benih cinta saya dengan dunia tulis menulis. Setidaknya sampai
sekarang dunia menulis belum tergantikan dengan kegiatan apapun yang sempat
menarik minat saya. Kenapa belum tergantikan ? silahkan Tanya dengan pak
presiden #plakkk di rajam readers..
hehe.. just kidding, intermezzo, supaya baca postingannya kaga serius amat tu muka. Back to the topic. Menulis, menulis,menulis. Dari SD saya sudah menyukai aktifitas ini. kalau SD itu saya paling suka nulis dyari. Sudah 6 buku kira-kira saya habiskan untuk menulis perasaan dan kegiatan saya waktu itu. tidak jauh-jauhlah dengan apa yang terjadi. Apa yang saya sukai dan tidak sukai. Maklum, waktu itu masih SD, masih polos-polosnya dan cute (?) #readersmual
haha.. sampai masa SMP rada bosan nulis dyari. Udah mulai geli sendiri. coz waktu saya baca isi dyari SD rada cengo dan geli. Kenapa ? bahasanya ituloh, ciri khas anak SD banget.. betul-betul polos. sehingga isinya bersifat subyektif semua ke saya.
hehe.. just kidding, intermezzo, supaya baca postingannya kaga serius amat tu muka. Back to the topic. Menulis, menulis,menulis. Dari SD saya sudah menyukai aktifitas ini. kalau SD itu saya paling suka nulis dyari. Sudah 6 buku kira-kira saya habiskan untuk menulis perasaan dan kegiatan saya waktu itu. tidak jauh-jauhlah dengan apa yang terjadi. Apa yang saya sukai dan tidak sukai. Maklum, waktu itu masih SD, masih polos-polosnya dan cute (?) #readersmual
haha.. sampai masa SMP rada bosan nulis dyari. Udah mulai geli sendiri. coz waktu saya baca isi dyari SD rada cengo dan geli. Kenapa ? bahasanya ituloh, ciri khas anak SD banget.. betul-betul polos. sehingga isinya bersifat subyektif semua ke saya.
Mulailah ngelirik cerpen dan
puisi. Awal pengen buat cerpen karena teman sebangku saya suka banget buat
cerpen. Bahkan cerpennya dia tulis buku besar akuntansi gitu. Isi cerpennya
rata-rata soal cinta.. hadeh.. sekarang saya baru ngerasain dan takut dengan
adik-adik saya yang SMP. Coz waktu zaman saya SMP yang jarang banget drama
percintaannya aja udah segitunya. Apalgi sekarang mulai lagu, film, tulisan,
berbau cinta dan melibatkan anak SMP !!! oh GOD !!!..
Ketika SMP saya sempat ikutan
lomba puisi dan buat cerpen. Perjuangan mengikuti lomba berat banget. Alhasil, Alhamdulillah..
saya tidak menang..
Pupus harapan ketika SMA jarang
banget nulis. Lebih banyak ikut organisasi. Tapi sempat ikut lomba karya tulis
gitu. Ingat perjuangannya saya ingin menangis. Kapan-kapan saya certain ya..
sekarang saya ingin menebar VIRUS CINTA MENULIS (VCM) #Asseekkk…
Mulai masuk kuliah ketemu
organisasi menulis yang sangat masyhur terkenal banget ni.. FLP (Forum Lingkar
Pena) Cabang Riau. Sempat jadi anggota training selama beberapa bulan, dan
dinyatakan lulus sebagai anggota. Setelah itu masuk jadi kepengurusannya. Nah,
rasa bersalah dengan teman-teman FLP sampai sekarang masih teredam di hati. Karena
setelah jadi pengurus saya malah stagnan dan future saat itu. disaat amanah
saya dapat, saya malah menjauh dan lari. Seharusnya saya dapat memajukan FLP
cab pku ini dengan pengurus lainnya, saya malah lari tak bertanggung jawab. Dengan
resmi saya meminta maaf kepada teman-teman FLP Cab pekanbaru.
Hitung punya hitung ada setahun
lebih saya stagnan dan futur. Oh, betapa meruginya saya. Saya mengetahui
istilah menyesal belakangan. Tapi otak yang kusut ini malah mengabaikan istilah
itu sebelumnya.
Setelah ada tragedi yang dashyat #apadeh.
Barulah sedikit-dikit rindu menyeruak. Dengan teman-teman seperjuangan. Dan aktifitas
yang pernah saya perjuangkan MENULIS. Dann……..
Taratatararara….. #backsound
Lahirlah BORA KANG BLOG. Sebagai rasa
haus akan rindu menulis saya. Sebagai rasa merajut kembali perjuangan saya. Sebagai
rasa ikatan hati yang tak bisa terpisah oleh aktifitas ini dan orang yang
mendukungnya.
Yah, semoga blog ini bermanfaat. Walaupun
nantinya readers banyak nemuin curhatan gaje kayak gini.. hehe.. tak apelah,
semoga walaupun hanya sekedar curhatan readers bisa mengambil ibrahnya..
Anyeong haseyo
Naneun Wenny Mulsandi imnida
Manaseo bangapseumnida
Hi..
I’am Wenny Mulsandi
You can call me weny, wewen,
sandy, what ever if you happy that my nicknames
Nice to meet you ^^
Penaku Berbicara : SANDIORIVA
PENGALAMAN MENJADI GURU TPA
Bibirku menarik simpul
setiap sudut ujungnya. Sesekali aku memutar memori dari awal kedatanganku
melamar kerja di TPA kasih ibu teladan. Bagaimana bisa aku terdampar di antara
lengkingan suara anak-anak yang dititipkan di TPA ini. entahlah.. yang jelas
saat itu aku sangat memerlukan pekerjaan. Curriculum vitae ku sudah
berterbangan ke berbagai jenis perusahan swasta membidik jabatan sebagai staff
administrasinya. Sangat berbeda sekali dengan kenyataan saat ini. Ya, pekerjaan
ku sekarang sebagai seorang guru penitipan anak. Tempat kerjanya penuh dengan
anak-anak. Teriakan anak-anak, tangisan anak-anak, bahkan rengekan mereka
ketika lapar dan buang air besar kuhadapi. Sejenak terlintas dipikiranku, apa
aku sudah tidak waras. Pekerjaanku ini berhubungan dengan sesuatu yang tidak
kusukai. Harus aku akui sebenarnya aku tidak begitu mengerti dunia anak-anak.
Yang aku tahu mereka hanya seorang manusia kecil yang selalu membuat kerepotan
orang disekitarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Kebutuhan financial yang mendesak
membuatku tidak mungkin untuk menunggu pekerjaan yang bagus. Sambil menunggu,
tidak ada salahnya aku terjun ke dunia anak-anak ini.
“ bagaimana ummi weny ?
apakah nyaman berada di sini ?” suara bu nita yang akarab disapa ummi nita
membuyarkan lamunanku. Menanggapi pertanyaannya air mukaku mendadak tersenyum
agak terpaksa
“yah, masih menyesuaikannya nih ummi.” Jawabku sekenanya. Aku berkata jujur. Dari awal memang sudah kukatan dengan bu nita bahwa aku belum ada pengalaman dengan mengurus anak-anak.
“ iya, namanya juga
belajar. Nanti kalau ada apa-apa Tanya saja dengan ummi liya ya wen..” jawabnya
seakan mengerti apa yang mengganjal di hatiku. Ia menunjuk bu liya guru
penitipan anak yang sudah lama disini. Sedikit waktu berkenalan aku dan bu liya
tadi pagi. Hanya sekedar nama dan langsung mendekati anak-anak. Sejauh ini yang
aku tahu bu liya guru full time yang memantau anak-anak sekaligus guru yang
menjadi pembimbing anak-anak yang ada di tempat penitipan.
Aku tersenyum kearah bu
liya yang sedang menyuapi raffi untuk
memakan bekalnya. Pundakku tiba-tiba berat. tangan kecil gilang mencekik leher
ku minta dipeluk. Walaupun tak terasa tercekik kehabisan napas tapi lingkaran
tangannya di leherku sukses membuat tenggorokanku sakit.
“ummi mau o’ok” rengek nya padaku. Masya ALLAH, ternyata gilang sudah buang air besar di celananya. Dan sekarang ia tengah duduk dipangkuanku. Bau khas kotoran anak kecil menyeruak kehidungku. Sedikit ada rasa mual.mau tak mau aku harus membersihkannya sebagai bagian dari tugasku.
“ummi mau o’ok” rengek nya padaku. Masya ALLAH, ternyata gilang sudah buang air besar di celananya. Dan sekarang ia tengah duduk dipangkuanku. Bau khas kotoran anak kecil menyeruak kehidungku. Sedikit ada rasa mual.mau tak mau aku harus membersihkannya sebagai bagian dari tugasku.
aku pun membimbing tangannya menuju kamar mandi. perlahan membuka pampersna yang sudah penuh dengan kotorannya. Kembang kempis paru-paruku menahan bau kotorannya. Secepat mungkin kubersihkan agar hidungku tidak tersiksa lama-lama. Dan akhirnya selesai juga membersihkan badan gilang, sekarang saatnya untuk memakaikan celana ganti. Lagi-lagi hati ku dirundung rasa godok. Gilang malah bermain-main dengan ku. Susah payah aku membujuknya untuk pasang celana, ia malah berlari kesana kemari. Setelah beberapa kali aku membujuknya, akhirnya ia mau juga memasang celananya.
“ummi, aga lapar.” Baru saja siap membereskan gilang. Jilbabku sudah ditarik-tarik oleh aga. Ia merengek meminta makanannya. Dengan sedikit menghembuskan nafas aku menyuapi aga. Beberapa menit tangisan davi terdengar. Rupanya ia tengah gigit-gigitan dengan gilang. Astagfirullah.. bayangkan saja 30 anak dalam satu ruangan, aku hanya mempunyai dua tangan dengan semua anak-anak itu mengeluh meminta ini dan itu, atau bertengkar, atau berteriak karena saking girangnya bermain. Jika kuhadapi sendiri bisa pecah kepalaku, bisa habis kesabaran ini. beruntung ummi liya datang melerai davi dan gilang.
Sepi. Sebagian anak-anak sudah tidur siang. Ada beberapa anak yang tidak mau tidur siang dan aku harus menemaninya. Aku menilik jarum jam yang bergerak kea rah angka 12 siang. Baru setengah hari aku bekerja. Sudah mau patah-patah tulangku rasanya. Di timpa berat badan anak-anak yang bermain denganku.
“ ummi..” seorang gadis
kecil memanggilku. Rupanya ia terbangun dari tidurnya. Ia mencariku dan
menjulurkan tangannya. Aku tahu ia ingin dirangkul. Segera saja ia jatuh
kepangkuanku. Sudah dari tadi beberapa anak meminta aku yang menemani mereka
bermain. Bahkan tidak ingin pisah dariku. Hatiku luluh. Aku sadar kesukaanku
terhadap perilaku mereka yang bagiku menyebalkan itu terlalu berlebihan.
Pelan-pelan aku mulai mengerti apa yang mereka mau. Aku juga belajar
sifat-sifat anak-anak yang beragam disana. Ada yang aktif, suka ngambek,
pendiam, atau tersenggol sedikit langsung menangis. Mereka sedang berkembang.
Rasanya sedikit kasihan dengan mereka. Ditinggal orang tua bekerja. Mungkin
waktunya dengan orang tua sangat sedikit. Aku tidak menyangka, hanya dengan
kesabaranku menemani, mereka sudah bergantung padaku. Aku harus merubah
pendapatku kalau anak-anak itu biangnya rusuh dan menyusahkan. Mereka lebih
kepada manusia kecil yang sedang tumbuh, membutuhkan perhatian, kegembiraan,
dan kasih sayang orang terdekatnya. Sepertinya haluanku mulai bergeser. Aku
menyukai anak-anak ini. kutilik lagi jam dinding yang ada diruangan putih
bercat biru di sekelilingnya itu. jam 3. Ah, terasa cepat jam 5 aku akan
berpisah dengan anak-anak. Aku mungkin akan kecanduan dengan tawa, tangis, dan rengekan
manja anak-anak yang minta dipeluk. Pekerjaan ini tidak begitu sulit, walau
juga tidak mudah. Setidaknya dengan mencintai anak-anak akan membuat kita
kecanduan dengan rengekan mereka. Senyumku mengembang melihat nanar anak-anak
ku yang ada di ruangan bermain yang cukup besar ini.
“ummi.. falif o’ok”
teriak fathur. Aku pun tersentak dan melihat falif. Kotorannya bahkan sudah
jatuh kelantai. Arrrghhh… setidaknya, bagian yang ini aku harus lebih banyak
belajar sabar untuk tidak merasa jijik.
Kamis, 12 Juli 2012
Motivasi Diri
Hidup.. hidup.. hidup.. satu kata yang membuat aku kelimbungan untuk mencari maknanya. hanya satu kata tapi dapat menguras isi otakku. untuk apa hidup ku ini ? jika kini banyak sekali terpaan ujian tapi aku tak dapat menghadapinya. untuk apa aku hidup ? jika semua sel-sel otakku seperti mati habis tak bisa digunakan. untuk apa aku hidup ?
yah, hanya satu kata. tapi seribu tangkisan. untuk apa mati sia-sia hanya karena satu kata. dikala kita sibuk memikirkan satu kata. ruang-ruang kosong telah diisi oleh sepersekian orang yang melihat celah kecil itu. mereka adalah orang yang bertindak.
kembali aku tercengang. inikah yang selama ini aku lakukan. hanya berpikir-berpikir. seakan-akan akulah yang paling banyak mendapatkan ujian dari-NYA. air muka ku pun sudah seperti orang yang terlilit hutang triliunan dengan rumah, fasilitas,harta benda dan seisinya sudah lenyap disita. TIDAK !!! aku alpa, aku lalai, kering kerontang tenggorokan ini menyalahkan, menumpahkan kekesalan kepada orang yang menganiaya aku. aku lupa. ROH DIRIKU SENDIRI ADALAH PENGANIAYA TUBUHKU YANG PALING KEJAM.
kembali kuingat.. kuingat.. kulakukan lakukan..
change stronger change strategy..
#SANDIORIVA
yah, hanya satu kata. tapi seribu tangkisan. untuk apa mati sia-sia hanya karena satu kata. dikala kita sibuk memikirkan satu kata. ruang-ruang kosong telah diisi oleh sepersekian orang yang melihat celah kecil itu. mereka adalah orang yang bertindak.
kembali aku tercengang. inikah yang selama ini aku lakukan. hanya berpikir-berpikir. seakan-akan akulah yang paling banyak mendapatkan ujian dari-NYA. air muka ku pun sudah seperti orang yang terlilit hutang triliunan dengan rumah, fasilitas,harta benda dan seisinya sudah lenyap disita. TIDAK !!! aku alpa, aku lalai, kering kerontang tenggorokan ini menyalahkan, menumpahkan kekesalan kepada orang yang menganiaya aku. aku lupa. ROH DIRIKU SENDIRI ADALAH PENGANIAYA TUBUHKU YANG PALING KEJAM.
kembali kuingat.. kuingat.. kulakukan lakukan..
change stronger change strategy..
#SANDIORIVA
Sabtu, 30 Juni 2012
Membuat Blogger baru
asik..asikk.. blog kedua jadi juga. sempat berhenti didunia perblogan (?). dan sekarang mencoba untuk meraihnya kembali (?). well, dari pada bingung sendiri. mari meracik blog dengan menarik :)
Langganan:
Postingan (Atom)
